There’s always new story when I came back to Batu Karas. Considering that place is my second hometown. Loving the place, the waves, the wind and specially the people.
This time the fulfilling moment is enjoying the food, laugh and stories over dinner & drinks with good friends.
Every morning we greet, we meet and play at the beach, surf, boogie-ing, eat, fishing, sight seeing and many things.



Every night we shares stories, no works mostly silly stories about our stupidity and love.
We eat, some of us drinks, we chat, we took pictures, we cheers and making fun of everyone.
We change stories…
Batu Karas Boys:
“Aing teh kangen nonton bioskop yang layarnya lebaaaaar di mol”
“I miss watching movies in a big big screen at the mall”
while I miss the sound and the waves they got everyday
“Aing pusing kalo mabok di kota…riweh, mau muntah susah”
“I don’t like getting drunk in the city, it’s hectic and hard to find a place to throw up”
LOL yes, where they have all the beaches to throw up anywhere!
One of the classic story of our stupidity is about love…
Boys and girls are actually the same when it came to fall in love.
at the end we said out loud!
Why Not? because Aing Lope Banget!
Why not? becase we love them so much!



For me as a nine to five and (almost) 24 Hours living on deadline, moments like this is so…precious. Where I can be grateful of what I have, looking at appreciate what I and others have. Having a break moments like this is refreshing my mind and heart. It’s like restart for awhile…Indonesia is not only Jakarta and I really grateful that I have them in my moments of life.
Yes,
Aing Lope Banget with Batu Karas.
Karena Kang Ayi terlalu mainstream 🍗 – at Jesfa Cafe Batu Karas with Kristina – See on Path.
Touch Down! Journey to find the waves 😊 with Kristina at Tunggul Wulung Airport, Cilacap – View on Path.
Yes, akhirnya kejadian juga bisa ikutan liat perayaan waisak yang katanya paling besar. Iya sih, kan Candi Borobudur adalah Candi Budha terbesar. Walau banyak yang sensitif karena katanya lebih banyak yang wisata daripada beribadah.
Tanpa banyak halangan saya pergi bersama beberapa teman dari @iphonesia walau terbang dalam flight yang berbeda. Tentu saja Yogya sangat penuh dan semua pesawat dan hotel penuh.
Yogyakarta
Kali ini saya kembali ke Hyatt Regency Hotel Yogyakarta, terakhir kesini mungkin 10 tahun yang lalu & hotel ini masih seelegan terakhir saya ingat.
Menikmati malam dengan absen ke Mirota Batik adalah suatu kewajiban walau yang dibeli selalu ‘mengarang bebas’ lalu tentu saja tidak mau rugi menikmati hotel resort. Dengan padang golf, kolam renang dan jogging track yang sangat mengundang, mana mungkin saya lewatkan.
Menyenangkan.



Perayaan Waisak 2013
Tanpa banyak tau dan memang berniat menjadi wisatawan saya bergabung dengan teman-teman menuju ke Candi Mendut tempat dimana prosesi Waisak dimulai. Ya, saya memang mau jadi turis (semoga tidak mengganggu yang ibadah) satu yang selalu bisa membuat saya bahagia dalam suatu perjalanan adalah bisa NAIK MOTOR! maklum jarang. Dikarenakan jalan yang padat dan jalan jauh jadilah kami menumpang ojek konvoi.

Sesampainya disana tentu saja teman-teman @iphonesia langsung hunting foto sedangkan saya tentu melihat2 dan cukup membuat dokumentasi dengan kamera pocket saya. Prosesi Waisak disini semakin tahun memang semakin padat karena banyak turis mengincar prosesi lampion yang indah. Buat saya, melihat prosesi-prosesi dan mendapat teman baru adalah satu cerita baru.
Disana saya melihat beberapa biksu bersiap dan pertunjukkan barongsai. Upacara selalu dimulai di Candi Mendut dilanjutkan dengan jalan/konvoi ke Candi Borobudur, dan sudah bisa dipastikan sepanjang jalan itu sangat ramai dari turis, para fotografer dalam dan luar negeri juga penduduk setempat.



Diselingi dengan banyak tawa dan canda karena kami istirahat makan, mencari ojek dan ditolak andong untuk ke Candi Borobudur, kenapa? karena ternyata kami berhenti hanya 100 meter dari pintu Candi Borobudur!
Anyway…
akhirnya kami masuk ke Candi Borobudur bersiap dan menyaksikan begitu banyak orang. Untuk masuk kesini setiap orang harus mempunya tanda peserta atau membeli karcis walau pada akhirnya ketika malam banyak orang masuk dengan gratis yang menyebabkan candi menjadi sangat penuh.
Satu pandangan yang membuat saya senang adalah ketika melihat orang bersantai duduk diatas rumput…ah indah dan bahagia

dan lagi-lagi saya melakukan hal yang sudah lama sekali tidak saya lakukan…naik ke puncak Candi Borobudur!

Perayaan Waisak dilakukan di pelataran Candi dengan dihadiri banyak para turis dan juga biksu atau yang datang spesial untuk ibadah. Saya? sudah cukup senang bisa ketemu banyaaaaaak teman!

Hari beranjak malam dan akhirnya perayan dimulai seiring dengan hujan yang semakin deras…

melupakan impian melihat lampion malam ini akhirnya saya dan teman-teman beranjak pulang…segala keseruan berhujan-hujanan, berganti baju daster Yogya semua dilakukan dengan tawa dan canda…entah kenapa gagal melihat lampion malam itu seakan tidak terasa sama sekali.
Ojek. Bermain hujan. Tawa. Canda dan Teman Baru.
Kenangan saya dengan Yogya kali ini.

Foto-foto lainnya:
http://www.flickr.com/photos/absolutraia/sets/72157633896328683/